Skoliosis adalah kondisi di mana tulang belakang seseorang memiliki kelengkungan samping yang abnormal. Skoliosis program merupakan program perawatan atau intervensi untuk mengatasi atau mengelola skoliosis. Program ini melibatkan terapi fisik, latihan khusus, pemantauan rutin, dan dalam beberapa kasus, pemakaian korset ortopedi atau operasi. Tujuannya adalah untuk mencegah kelengkungan meningkat dan mengurangi ketidaknyamanan atau masalah lain yang mungkin terkait dengan kondisi tersebut.
Skoliosis diklasifikasikan berdasarkan derajat kelengkungannya, yang diukur dengan sudut Cobb. Sudut Cobb diukur dengan menggunakan radiografi (X-ray) tulang belakang. Berikut adalah klasifikasi skoliosis berdasarkan derajat kelengkungan:
1. Ringan: Sudut Cobb kurang dari 20°. Dalam banyak kasus, skoliosis ringan tidak memerlukan perawatan khusus selain pemantauan rutin untuk memastikan kelengkungan tidak memburuk.
2. Sedang: Sudut Cobb antara 20° hingga 40°. Untuk kelengkungan di kisaran ini, brace atau korset mungkin direkomendasikan, terutama jika pasien masih dalam masa pertumbuhan. Tujuannya adalah untuk mencegah kelengkungan bertambah parah.
3. Parah: Sudut Cobb lebih dari 40°. Skoliosis dengan derajat kelengkungan ini sering memerlukan pertimbangan untuk intervensi bedah, terutama jika ada risiko kelengkungan terus meningkat atau jika ada gejala lain seperti masalah pernapasan atau nyeri.
Sebagai tambahan, skoliosis dengan kelengkungan lebih dari 50° pada tulang belakang torakal (bagian atas) biasanya memerlukan pertimbangan untuk operasi karena risiko gangguan pada organ-organ internal seperti jantung dan paru-paru.
Skoliosis bisa didiagnosis pada berbagai usia, tergantung pada jenis dan penyebab kelengkungannya. Skoliosis umumnya dikategorikan berdasarkan usia saat didiagnosis:
1. Skoliosis Kongenital: Ini adalah jenis skoliosis yang terjadi akibat kelainan yang ada saat lahir. Kelainan ini biasanya ditemukan saat bayi lahir atau tidak lama setelahnya.
2. Skoliosis Infantil: Ini mengacu pada skoliosis yang didiagnosis pada anak-anak berusia 0-3 tahun.
3. Skoliosis Juvenil: Ini adalah skoliosis yang didiagnosis pada anak-anak berusia 3-10 tahun.
4. Skoliosis Adolesen: Ini adalah jenis skoliosis yang paling umum dan biasanya didiagnosis pada anak-anak dan remaja berusia 10 tahun hingga akhir masa pertumbuhan.
5. Skoliosis Dewasa: Meskipun lebih jarang, skoliosis juga bisa didiagnosis pada orang dewasa. Ini bisa karena skoliosis yang tidak didiagnosis saat masa remaja atau bisa disebabkan oleh penyebab lain seperti degenerasi diskus atau osteoporosis.
Jika skoliosis dibiarkan tanpa pengobatan atau pemantauan, beberapa masalah potensial yang mungkin muncul antara lain:
1. Peningkatan Kelengkungan: Tanpa intervensi, kelengkungan tulang belakang bisa bertambah parah, terutama selama masa pertumbuhan cepat pada masa remaja.
2. Nyeri: Seiring waktu, skoliosis yang parah dapat menyebabkan nyeri punggung dan leher.
3. Masalah Pernapasan: Kelengkungan yang sangat parah dapat mempengaruhi dada dan paru-paru, mengurangi kapasitas pernapasan dan menyebabkan kesulitan bernapas.
4. Masalah Jantung: Dalam kasus yang ekstrim, ruang untuk jantung bisa terbatas, mengakibatkan masalah kardiovaskular.
5. Penampilan: Seiring dengan peningkatan kelengkungan, perubahan kosmetik pada penampilan punggung, pinggang, dan pinggul bisa menjadi lebih nyata, termasuk bahu yang tidak seimbang, pinggul miring, atau rusuk yang menonjol pada satu sisi.
6. Masalah Postur: Skoliosis dapat mempengaruhi postur seseorang, yang bisa mengakibatkan ketidakseimbangan dan ketegangan pada otot tertentu.
7. Degenerasi Diskus: Orang dengan skoliosis mungkin memiliki risiko lebih tinggi untuk masalah diskus seperti herniasi atau degenerasi.
8. Nyeri Sendi: Kelengkungan yang tidak normal bisa menimbulkan tekanan lebih pada sendi, terutama di punggung bawah, yang mungkin menyebabkan osteoartritis di kemudian hari.
9. Kerusakan Saraf: Dalam kasus yang sangat parah, tulang belakang yang bengkok bisa menekan saraf, menyebabkan nyeri, kesemutan, atau kelemahan.
Untuk mendiagnosis dan mengevaluasi skoliosis, berikut adalah beberapa tes diagnostik yang umumnya diperlukan:
1. Pemeriksaan Fisik: Ini adalah langkah pertama. Dokter akan memeriksa punggung, pinggang, dan pinggul pasien. Mereka mungkin juga memeriksa apakah bahu pasien sejajar dan apakah ada perbedaan tinggi antara sisi kanan dan kiri bahu atau pinggul.
2. X-ray (Rontgen): Ini adalah tes diagnostik utama untuk skoliosis. X-ray akan menunjukkan apakah ada kelengkungan tulang belakang dan seberapa parah kelengkungannya. Dengan mengukur sudut kelengkungan (disebut sudut Cobb), dokter dapat menentukan tingkat keparahan skoliosis.
3. MRI (Magnetic Resonance Imaging): Jika ada kekhawatiran tentang kelainan bawaan, tumor, atau penyebab lain dari skoliosis, MRI mungkin dianjurkan. MRI memberikan gambaran yang lebih rinci dari tulang belakang dan struktur sekitarnya.
4. CT Scan (Computed Tomography): Seperti MRI, CT scan memberikan gambaran yang lebih rinci dan bisa digunakan jika diperlukan visualisasi lebih lanjut dari tulang belakang.
5. Tes Fungsi Paru-paru: Untuk skoliosis yang parah, tes fungsi paru-paru seperti spirometri mungkin diperlukan untuk mengevaluasi seberapa baik paru-paru bekerja, karena skoliosis bisa mempengaruhi kapasitas paru-paru.
6. Pemeriksaan Neurologis: Ini dapat dilakukan untuk menilai kekuatan, refleks, dan sensasi, terutama jika ada kekhawatiran bahwa skoliosis mungkin mempengaruhi saraf di sekitar tulang belakang.
Dalam banyak kasus, skoliosis ringan mungkin tidak terdeteksi sampai masa remaja, ketika pertumbuhan cepat seringkali membuat kelengkungan menjadi lebih nyata. Namun, dengan pemeriksaan rutin oleh dokter anak, kelengkungan bisa seringkali dideteksi lebih awal.
Penting untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis tulang belakang untuk mendapatkan evaluasi yang tepat dan menentukan tes diagnostik mana yang paling sesuai untuk setiap individu.
Baca juga : Kekurangan Vitamin D