Sakit di tulang ekor tentu menimbulkan rasa tidak nyaman dan mengganggu aktivitas sehari-hari, terutama saat duduk. Kondisi ini dapat muncul akibat cedera pada tulang ekor atau penyakit tertentu. Namun, rasa sakit di tulang ekor kadang juga bisa muncul tiba-tiba tanpa diketahui penyebabnya.
Di sekitar tulang ekor terdapat banyak otot, ligamen, serta saraf. Tulang yang letaknya di ujung bawah tulang belakang ini berfungsi untuk menopang berat tubuh dan menjaga postur tubuh ketika duduk.
1. Cedera tulang ekor
Cedera di punggung bagian bawah merupakan penyebab sakit di tulang ekor yang paling sering terjadi. Kondisi ini ditandai dengan memar, retak, patah, atau pergeseran pada tulang ekor. Cedera tulang ekor dapat dipicu atau disebabkan oleh:
Jatuh dalam posisi duduk, Aktivitas yang menimbulkan tekanan berulang atau gesekan pada tulang ekor untuk jangka waktu yang lama, misalnya bersepeda, berkuda, atau mengendarai motor di jalan yang bergelombang, dan Duduk terlalu lama di atas permukaan yang keras.
2. Persalinan normal
Persalinan normal yang berlangsung lama atau disertai penyulit hingga membutuhkan bantuan forsep menyebabkan kepala bayi menekan bagian atas tulang ekor ibu. Hal ini dapat menyebabkan tulang ekor ibu menjadi nyeri setelah melahirkan.
Munculnya rasa nyeri ini dapat diakibatkan oleh cedera pada tulang ekor atau ligamen dan otot di sekitarnya. Pada kasus yang parah, cedera bahkan bisa menyebabkan patah atau pergeseran tulang ekor.
3. Penyakit sendi degeneratif
Penyakit sendi atau kondisi sendi yang semakin melemah akibat penuaan atau gerakan berulang dapat menimbulkan rasa sakit di tulang ekor. Beberapa contoh penyakit sendi yang bisa menyebabkan keluhan ini adalah osteoarthritis dan rheumatoid arthritis.
4. Kelainan bentuk tulang ekor
Tulang ekor terdiri dari 3-5 susunan tulang kecil di bagian bawah punggung. Namun, jika jumlah tulang kecil lebih dari 5 atau terjadi perkapuran pada tulang ekor, dapat muncul rasa nyeri di area ini saat duduk, akibat penekanan atau iritasi pada jaringan saraf di sekitarnya.
5. Gangguan saraf tulang ekor
Di bagian atas tulang ekor terdapat kumpulan saraf yang dapat menerima rangsang nyeri. Jika saraf tersebut mengalami iritasi, meradang, atau mengalami cedera, akan muncul rasa nyeri pada tulang ekor yang dapat berlangsung lama.
Salah satu penyakit pada saraf tulang belakang yang dapat menimbulkan sakit di tulang ekor ini adalah saraf terjepit atau HNP.
6. Kebiasaan duduk terlalu lama
Duduk dalam posisi yang tidak tepat untuk jangka waktu lama dapat memberikan banyak tekanan pada tulang ekor. Hal tersebut bisa menimbulkan rasa sakit yang akan bertambah parah saat Anda duduk terlalu lama.
7. Kelebihan atau kekurangan berat badan
Kelebihan berat badan atau obesitas dapat memberikan tekanan berlebih pada tulang ekor, terutama saat Anda duduk. Sementara jika Anda terlalu kurus, tidak ada cukup bantalan lemak di bokong untuk mencegah tulang ekor bergesekan dengan jaringan di sekitarnya.
8. Usia
Seiring pertambahan usia, tulang rawan yang membantu menahan tulang ekor akan semakin rapuh. Selain itu, tulang-tulang yang membentuk tulang ekor menjadi semakin rapat. Kondisi ini dapat menimbulkan lebih banyak tekanan pada tulang ekor dan menimbulkan rasa sakit.
Selain beberapa penyebab di atas, terkadang munculnya rasa sakit di tulang ekor juga dapat disebabkan oleh infeksi, kista pilonidal, atau tumor yang yang telah menyebar ke tulang ekor. Walau demikian, nyeri tulang ekor juga bisa tidak diketahui dengan jelas apa penyebabnya.
Terapi PELD (Percutaneous Endoscopy Lumbar Decompression) surabaya, Teknologi endoskopi di surabaya, pelayanan MRI express, terapi nyeri pinggang bagian bawah, terapi untuk pengobatan nyeri pinggang tulang belakang, terapi syaraf kecentit, terapi syaraf kecetit, pelayanan endoskopi surabaya, terapi endoskopi tulang belakang surabaya, rumah sakit endoskopi tulang belakang surabaya, rumah sakit endoskopi, rumah sakit endoskopi surabaya, pengobatan sakit leher , pengobatan sakit punggung, sakit tulang belakang, dokter syaraf terbaik surabaya, MRI 1 hari selesaioperasi resiko rendah, minimal invasive spine surgery